Memasuki Tahun Baru 1428 H: "Jadikan Diri Sebagai Muslim yang Terarah, Terencana, Mengutamakan Bukti dan Siap Berdakwah ---- Mari Kita Melaksanakan Puasa Asyura dan Tasu’a Di Bulan Muharram ini
Showing posts with label catatan haji. Show all posts
Showing posts with label catatan haji. Show all posts

Thursday, January 18, 2007

Haji Plus (Lapar)

Dalam perjalanan pulang dari tanah suci, seperti saat-saat masih di asrama haji palembang, rombongan kami tak lepas dari banyolan-banyolan kecil khas orang-orang tua tentunya diantara selingan doa dan dzikir yang selalu terdengar, ada saja kata-kata yang bernada gurauan keluar. Entah mungkin mereka bermaksud untuk sekedar menghilangkan ketegangan atau apa ( maklum banyak diantara mereka yang baru pertama kali naik pesawat), saya mau tak mau kadang ikut mendengarkan tapi tidak berusaha untuk ikut nimbrung atau menimpali, karena kebetulan di rombongan tersebut saya termasuk diantara jamaah yang termuda. Seperti ketika di pesawat dalam perjalanan pulang misalnya, seorang bapak-bapak tiba-tiba berkata pada ketua rombongan " Alhamdulillah, beruntung sekali kita yang berhaji tahun ini ya, kita bisa merasakan fasilitas yang plus." Saya yang kebetulan mendengar sedikit mengernyitkan kening, apa maksudnya merasakan fasilitas plus, sedangkan rombongan kami jelas-jelas bukan haji plus, pikirku. Rupanya Salah seorang bapak yang lain menjawab, " Kamu itu mimpi ya, kita kok dibilang haji plus ". Bapak yang tadi malah ketawa, orang-orang disekitarnya semakin bingung, terus dia bilang "iya lah, kita ini memang haji plus,
dibilangin kok tidak percaya ".
" Pak kita ini haji biasa, tidak pake plus. Fasilitasnya juga saja sama dengan yang lain kan, bapak lupa ya?"
kata salah seorang dari rombongan.
" Nggak... pokoknya kita ini haji plus!!!" melihat ngototnya bapak tadi, penumpang yang lain akhirnya diam saja, malas meladeninya. Mungkin karena melihat gelagat teman-temannya sudah menyerah dan tidak ada yang buka mulut lagi, tak lama bapak itu berkata lagi, " Saudara-saudara, kita ini semuanya berhaji plus, tapi plus lapar ".
Tiba-tiba pesawat yang tadinya sempat hening berubah oleh suara jamaah yang tak bisa kuasa menahan tawa. Astaghfirullah...ada-ada saja pikir saya.

Sunday, January 14, 2007

Di Balik "Musibah" di Tanah Suci

Hajj-e-BaytullahBerhaji di tahun ini, adalah pengalaman haji saya yang pertama. Ada harapan besar dari saya pribadi_tentu juga bagi mereka yang berhaji_yaitu ibadah itu mabrur. Semoga diterima Allah SWT. Memang, kendati menjadi harapan semua orang, kemabruran bukanlah sesuatu yang mudah diukur. Tidak semudah kita mengetahui kita lulus sekolah atau naik kelas. Sejumlah kiai dan ustad berusaha memudahkan pengertian mabrur tersebut. Yakni, adanya proses peningkatan. Setelah menunaikan ibadah haji, seseorang menjadi lebih baik. Lebih baik amal ibadahnya, amal sosialnya, tutur katanya, dan lain-lain. Namun sejatinya, Allah Ta'ala sajalah yang tahu mabrur tidaknya haji seseorang.

Ada sebuah pelajaran berharga yang saya dapat, diluar dari menjalankan rangkaian ibadah yang sudah ditentukan, yakni kepedulian. Ada hal-hal yang _mungkin_ selama ini terlupakan dari cara kita memandang persaudaraan dalam islam. Kita terkadang lupa bahwa semua umat muslim itu saudara, hingga sudah selayaknya kita menjadi umat yang peduli dengan sesama, saling menghormati, saling membantu, dan sebagainya.

Karena itu saya sedih bila teringat minimnya kepedulian kita, dimana sering kita membiarkan anak yatim putus sekolah karena tidak ada biaya, membiarkan orang miskin mengganjal perut dengan batu karena kelaparan, dan membiarkan orang miskin tetangga kita merintih kesakitan dan tak mampu berobat karena tak ada uang sepeserpun di tangan.

Berkaca dari "musibah" kelaparan yang di alami jamaah haji tahun ini tentu merupakan tragedi kemanusiaan yang memilukan. Tapi, tragedi lebih besar juga diderita saudara-saudara muslimlain yang hidup dalam kenestapaan. Mereka lapar bertahun-tahun dan tidak ada yang memperdulikan. Sebaliknya, kelaparan yang kami (jamaah haji) derita dapat mendatangkan kepedulian dari mana-mana.

Semua media massa memberitakan besar-besaran, pihak-pihak yang yang berwenang dikecam, mereka yang tadinya selama ini tidak peduli pun berubah menjadi mahluk yang paling peduli.
Sebenarnya, jemaah haji tetaplah bernasib lebih baik. Karena itu, saya memandang musibah tersebut sebagai ujian dan peringatan dari Allah.

Siapa tahu Allah memang sedang menguji kesabaran kami. Siapa tahu, dulu, keberangkatan haji kami tidak disertai niat yang tulus. Siapa tahu, ketika bersuka ria mengadakan syukuran haji, ternyata ada tetangga yang kelaparan. Siapa tahu, ketika datang ke bank untuk melunasi ONH, ternyata ada tetangga yang bertarung dengan maut karena tak punya uang untuk berobat.

Siapa tahu...siapa tahu...yang tertanam di hati itulah yang membuat saya_semoga jemaah haji lainnya_ semakin menginstropeksi diri bahwa masih banyak yang harus dilakukan setelah ini...meningkatkan kepedulian terhadap umat.

Jangan Tunggu Tua Pergi Haji

Hajj-e-BaytullahAda guyonan umum di antara orang yang pernah menunaikan haji. Mereka biasanya menyesal telah menunda haji hingga sekian lama, ketika usia sudah udzur dan fisik tidak memadai lagi. Mereka bisanya menyarankan segeralah menyegarakan naik haji ketika usia masih muda.

Ya, persiapan haji yang utama adalah usia.

Kalau kita sudah dikarunia rejeki yang cukup, sedang usia kita masih muda, bersyukurlah pada Allah. Sesungguhnya kita beruntung. Kalau kita naik haji pada usia seperti itu tentu akan sungguh nikmat.

Ada yang bilang, “Saya ragu naik haji. Usia masih tiga puluhan. Takut kalau sudah balik, perilaku saya masih tetap seperti dulu.” Benar. Kemantapan rohani dan spiritual adalah penting, tapi tidak kalah penting pula kesiapan fisik kita. Kalau usia Anda 50 puluhan, bahkan banyak jamaah haji Indonesia yang berusia antara 60 hingga 70 tahun, apa yang Anda bayangkan agar ibadah haji Anda nyaman?

Misalnya saja, jarak pondokan ke Masjidil Haram rata-rata sekitar 2-3 km (bahkan ada yang lebih). Kalau kita ingin tiap hari (atau tiap waktu salat) ke masjid, apakah kita membayangkan harus berjalan pergi-pulang 5 km tiap waktu salat. Apalagi kalau subuh, di Mekkah, pada pukul 04.00 pagi biasanya jamaah berduyun-duyun ke Masjidil Haram. Kalau kita telat, pasti hanya dapat tempat di pinggir luaran masjid saja. Padahal cuaca di sana cukup dingin.

Belum lagi untuk menjalankan ibadah inti, yang karena sifat waktunya berdekatan, bersamaan (seluruh jamaah haji sedunia yang dua juta orang itu) juga menjalankannya, dan ketat, akan sangat membutuhkan fisik yang siap dan sehat. Puncak kebutuhan akan fisik yang prima tentulah pada ibadah jumrah Aqobah yang dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah itu. Jumrah Aqobah adalah syarat wajib haji. Saat itulah dua juta lebih jamaah haji sedunia berkumpul untuk melempar batu pada sebuah tugu simbol iblis. Semua harus tuntas pada periode itu.

Dalam jumrah Aqobah inilah, karena dianggap muda di antara jamaah lain, saya memimpin iring-iringan jamaah dari rombongan saya. Ketika mendekati tiang dan berniat melempar yang pertama, tiba-tiba jamaah rombongan yang terpental oleh gelombang jamaah lain dan kami pun terpisah. Saat itulah saya merasakan gelombang hentakan yang paling dahsyat dalam hidup saya. Seumur-umur, tidak pernah saya merasakan hentakan gelombang manusia berdesakan dalam tempat di dunia ini, kecuali di dekat tugu tempat Jumrah Aqobah. Hentakan gelombang manusia terkuat kedua saya rasakan ketika hendak menyentuh Hajar Aswad di Masjidil Haram.

Dalam jumrah itu, seorang jamaah rombongan kami, badannya cukup besar, akhirnya menyerah dan mempercayakan kepada kami setelah istrinya terpisah. Akhirnya setelah kami atur untuk meminggir terlebih dahulu, saya dan beberapa jamaah yang muda mencari di antara gelombang jamaah tersebut, dan syukurlah istrinya ditemukan bersama beberapa ibu lainnya.

Jadi, lebih muda kita berhaji, tentu sedikit membantu kenyamanan kita beribadah.

Mencium Hajar Aswad


Ketika berhaji, awalnya saya tidak terlalu berniat mencium Hajar Aswad sehingga kalau Thawaf tidak pernah dekat-dekat dengan Ka’bah. Entah mu’jizat apa, suatu ketika dalam satu Thawaf, pikiran saya tiba-tiba agak kosong dan serasa naik angin cepat meliuk-liuk dalam Thawaf dan tiba-tiba saya sudah di depan Multazam dan berangsur dekat berada dekat Hajar Aswad. Sejak kejadian tersebut, saya berniat mencium Hajar Aswad.

Memang awalnya tidak mudah walau sudah antri mulai dari Rukun Yamani, namun belum tentu dapat menciumnya walau orang di depan saya sudah bisa menciumnya. Hal ini berlangsung sampai tiga kali namun tidak berhasil akhirnya mental keluar dari antrian. Saat itu, rejeki saya hanya bisa menatap dari dekat bagaimana bentuk ‘tempurung” Hajar Aswad serta komposisi dan warna tujuh pecahan batunya (antara merah hati sampai ungu) yang direkat dengan semacam semen (?) warna coklat susu dengan titik-titik kecil seperti kerikil / pasir warna hitam.

Dalam upaya mencium Hajar Aswad ini sampai peci hilang tak terasa; stiker tanda bis, plane, dan Clearence Bea Cukai Arab Saudi terkelupas hilang dari tas paspor dengan bekas licin laksana tak pernah ada stiker pernah menempel di bagian tersebut. Keringat ? jangan ditanya, basah kuyup. Bahkan kain yang saya pakai nya tadinya mulus, gara-gara berdesakan mencium Hajar Aswad kainnya yang bergesekan dengan orang lain mejadi keriting macam kain flanel.

Akhirnya ketika bertemu dengan teman di pagar penyekat bagian laki-laki dan perempuan di dekat bekas pintu ke Sumur Zam-zam, dia cerita bahwa hari ini ini dia dapat mencium Hajar Aswad sampai dua kali. Akhirnya saya minta tips bagaimana caranya supaya bisa mencium Hajar Aswad, dan segera saya praktekkan.

Ternyata dia pertama kali berhasil mencium Hajar Aswad dengan bantuan calo, namun untuk yang kedua dilakukan sendiri dengan cara yang sama. Caranya ternyata tidak antri dari Rukun Yamani. Namun, dari Multazam, mepet ke Ka’bah dan terus berpegangan pada pinggiran marmer tempat seorang tentara bertengger kalau menjaga Hajar Aswad.

Pas ketika orang yang antre dari Rukun Yamani gantian ke depan Hajar Aswad, yang dari Multazam masuk ke Hajar Aswad. Akhirnya dengan cara ini saya bisa mencium Hajar Aswad tiga kali. Alhamdullillah.